Skema Tiga Bek dan Cedera Thiago Motta yang Membunuh PSG

3bf58f28-c29a-4ec9-8934-312643bb53a7_169.jpg
Manchester City berhasil mengalahkan Paris Saint-Germain pada leg
kedua perempatfinal Liga Champions yang digelar Rabu (13/04/2016)
dini hari WIB dengan skor tipis 1-0. Sebuah gol dari Kevin de
Bruyne membuat Manchester City sukses menyingkirkan PSG karena
unggul agregat 3-2.

Seperti pada leg pertama, PSG sebenarnya mampu mendominasi
permainan dengan keunggulan penguasaan bola 65% berbanding 35%.
Hanya saja, jika pada leg pertama PSG mampu mencetak 16
tembakan, pada leg kedua kali ini mereka hanya mampu
menciptakan enam kali tembakan.

Persoalannya memang ada pada minimnya kreativitas di lini
tengah PSG. Absennya sejumlah pemain membuat Pelatih PSG,
Lauren Blanc, bereksperimen dengan skema yang berbeda. Namun,
skema tersebut tak berjalan sesuai rencana, hingga akhirnya
‘membunuh’ mereka sendiri.

Skema Tiga Bek PSG yang Membuat Lini Tengah Minim
Kreativitas

Blanc mempersoalkan lini pertahanan pada leg pertama.
Menurutnya, para pemain PSG di lini pertahanan terlalu
menyediakan ruang kosong untuk dimanfaatkan oleh City.
Karenanya pada leg kedua ini ia mencoba membenahi hal tersebut.

Namun, masih belum pulihnya Marco Verratti serta hukuman
suspensi yang diterima Blaise Matuidi dan David Luiz membuat
Blanc tak bisa memainkan komposisi pemain terbaiknya. Para
pemain pengganti yang ada, seperti Benjamin Stambouli di lini
tengah, masih belum dipercayai Blanc untuk tampil di laga
sepenting menghadapi The Citizens ini.

Alhasil ia bereksperimen dengan formasi dasar 3-5-2. Ia bahkan
menempatkan Serge Aurier, yang idealnya bermain sebagai
full-back kanan, sebagai bek tengah bersama Thiago
Silva dan Marquinhos. Sementara itu, untuk mengisi pos yang
ditinggalkan Matuidi, Blanc menempatkan Angel Di Maria sebagai
gelandang tengah, bukan penyerang sayap.

Ternyata skema ini berpengaruh pada cara PSG melancarkan
serangan. Tak adanya gelandang kreatif seperti Verratti atau
Matuidi yang biasanya menjadi gelandang box-to-box,
membuat aliran bola ke sepertiga akhir minim. Bahkan PSG
seperti terlihat memainkan Zlatan Ibrahimovic sebagai gelandang
no.10.

"https://images.detik.com/community/media/visual/2016/04/13/8d65ef44-74c2-4e8d-af51-6b14d2b2a3b4.jpg?w=496"
alt="" width="428" height="347">

Heatmap Ibrahimovic yang sering bergerak di tengah lapangan
– sumber: Squawka

Sayangnya skema ini mampu diantisipasi Man City yang masih
memasang double pivot dalam formasi 4-2-3-1. Gaya bertahan yang
menjaga kedalaman ditambah tekel yang terlalu agresif membuat
barisan pertahanan Man City lebih memfokuskan diri covering
area ketika tak menguasai bola.

Hal ini memaksa aliran bola PSG selalu berhenti di middle third
atau tengah lapangan. Bahkan pada babak pertama, mereka hanya
satu kali menciptakan peluang. Para pemain depan terisolir dan
harus bergerak turun ke tengah untuk menjemput bola. Alhasil
tak ada pemain depan yang bisa menjadi target operan di lini
pertahanan Man City.

"https://images.detik.com/community/media/visual/2016/04/13/980f282e-98ed-4d0e-9275-6bcd9c3959a5.jpg?w=498"
alt="" width="450" height="362">

Heatmap Cavani yang menjelajah lapangan tengah untuk
mendapatkan bola – sumber: Squawka

Meski minim kreativitas kala menyerang, sebenarnya lini
pertahanan PSG menjadi lebih kuat dengan pola ini. Pada babak
pertama, selain satu kesempatan Manchester City dari tendangan
penalti yang gagal dikonversi menjadi gol oleh Sergio Aguero,
total hanya empat kali skuat asuhan Manuel Pellegrini
melepaskan tembakan (termasuk penalti). Dan dari keempat
tembakan tersebut, tak ada satupun yang mengarah ke gawang.

Lini pertahanan menjadi lebih baik karena dua wing-back,
Maxwell dan Gregory van der Wiel, lebih difokuskan menjaga
pertahanan. Hal ini juga yang membuat serangan sayap PSG buntu.
Maxwell dan Van der Wiel bermain hati-hati di sayap, tidak
terlalu sering melakukan overlap.

"https://images.detik.com/community/media/visual/2016/04/13/b5b66f36-8af7-45ac-8ab9-5df333a02a3f.jpg?w=491"
alt="" width="439" height="378">

Grafis operan sepertiga akhir PSG pada babak pertama yang
tertahan di tengah – sumber: Squawka

Cederanya Thiago Motta dan Perubahan Pola Menyerang Man
City

Saat PSG kesulitan menyerang namun memiliki lini pertahanan
yang cukup kokoh, petaka terjadi di penghujung babak pertama.
Thiago Motta, satu-satunya gelandang inti PSG yang tersisa pada
laga ini, mengalami cedera yang memaksanya harus diganti.

Blanc menyikapi hal ini dengan perubahan strategi yang
terbilang ekstrem. Formasi dasar 3-5-2 tak dipertahankan. Ia
memasukkan Lucas Moura yang merupakan seorang pemain sayap.

Formasi dasar pun berubah menjadi 4-3-3 dengan Marquinhos
sebagai pemain yang mengisi posisi Motta sebelumnya. Hanya saja
Marquinhos memainkan peran half-back sehingga ia pun
sering berdiri sejajar dengan Aurier dan Silva yang bermain
sebagai bek tengah ketika PSG tak menguasai bola.

Namun, situasi agregat 2-2 yang artinya PSG harus segera
mencetak gol memaksa Blanc memutar otaknya kembali. Apalagi
hingga menit ke-60, skuat asuhannya hanya melepaskan dua
tembakan saja. Yang dilakukan pelatih asal Prancis tersebut
kemudian adalah dengan memasukkan Javier Pastore, menarik
keluar Aurier.

Perubahan kembali terjadi. Marquinhos dikembalikan ke posisi
aslinya, bek tengah. Pastore sendiri bermain sebagai gelandang
serang menemani Di Maria. Posisi gelandang bertahan diisi oleh
gelandang muda asal Prancis, Adrien Rabiot.

Rabiot bukanlah seorang gelandang perebut bola. Ia lebih
bermain ofensif, terbukti dengan catatan golnya yang sudah
mengoleksi tiga gol di ajang Liga Champions dari total tujuh
kali bermain. Dan hal tersebut melahirkan petaka bagi lini
pertahanan PSG.

Rabiot tak mampu bermain sebagai half-back seperti
Marquinhos. Paling fatal adalah ketika gol Kevin de Bruyne
terjadi. Pada momen tersebut, Rabiot bermain terlalu dalam dan
meninggalkan area depan kotak penalti. De Bruyne pun menerima
bola dengan cukup leluasa sebelum akhirnya menempatkan bola ke
pojok kiri gawang PSG yang dikawal Kevin Trapp.

"https://images.detik.com/community/media/visual/2016/04/13/0bdaff59-962a-4f7a-be63-3912f2e01cf3.jpg?w=538"
alt="" width="484" height="395">

Momen ketika De Bruyne melepaskan tembakan

Pada gambar di atas, terlihat Rabiot (lingkaran merah) sedang
tak berada di posisinya. Hal ini bahkan memaksa Edinson Cavani
yang harus berusaha merebut bola. Selain itu, Marquinhos dan
Thiago Silva pun harus menutup jalur tembakan De Bruyne (yang
tentunya memengaruhi pandangan Kevin Trapp).

Tak hanya kesalahan Rabiot seorang memang. Jika dilihat lagi,
Javier Pastore yang idealnya berada di tengah, bermain terlalu
melebar. Di Maria yang harusnya bersanding dengan Pastore di
tengah pun tak ikut membantu pertahanan. Padahal para pemain
menyerang Man City menumpuk di area tengah.

Skema ini pun merupakan buah dari perubahan skema alur
menyerang Man City. Awalnya, Man City menyerang sisi kanan
pertahanan PSG yang menggunakan skema 3-5-2. Man City berusaha
mencecar Aurier yang canggung memainkan posisi bek tengah. Hal
ini juga cukup diwajarkan mengingat bek kanan asal Pantai
Gading tersebut melakukan blunder pada leg pertama yang berbuah
gol kedua Manchester City.

"https://images.detik.com/community/media/visual/2016/04/13/cb719e9b-9f41-40f9-bbe2-0c3ba48174ab.jpg?w=494"
alt="" width="437" height="372">

Grafis operan Man City yang menyerang sisi kanan pertahanan
PSG pada babak pertama – sumber: Squawka

Namun, ketika PSG kembali bermain dengan formasi dasar 4-3-3,
terlebih Aurier ditarik keluar, Man City mengubah fokus
serangan mereka. Cederanya Thiago Motta dan ditarik keluarnya
Aurier membuat Man City menyerang area tengah PSG.

Dari sini peluang demi peluang Man City pada babak kedua banyak
tercipta. Tercatat empat dari lima peluang City pada babak
kedua (termasuk gol De Bruyne), lahir dari operan kunci di area
tengah atau area depan kotak penalti lini pertahanan PSG.
Seperti yang terlihat dari grafis di bawah ini.

"https://images.detik.com/community/media/visual/2016/04/13/fccaa94f-37f7-4506-8601-ab780b7bfdc6.jpg?w=497"
alt="" width="447" height="378">

Grafis operan kunci Man City pada babak kedua – sumber:
Squawka

Kesimpulan

Skema tiga bek awalnya tak begitu bermasalah bagi lini
pertahanan. Namun skema tiga bek membuat kreativitas Paris
Saint-Germain di lini tengah menjadi minim. Akhirnya PSG
kesulitan menciptakan peluang, hanya menciptakan enam kali
tembakan sepanjang 90 menit.

Sementara itu Manchester City kembali bermain dengan baik
dengan pendekatan strategi yang tak terlalu berbeda seperti
pada leg pertama. Meski kalah penguasaan bola, Kevin de Bruyne
dkk mampu mencetak lebih banyak peluang dengan sembilan kali.

Man City pun akhirnya mampu memanfaatkan celah di lini tengah,
setelah Thiago Motta ditarik keluar, untuk memenangkan
pertandingan dengan skor 1-0.

====

*dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di
sini.

(roz/roz)

Sbr