Sederhana tapi Sulit, Cara ‘Tank’ Atletico Jinakkan Barcelona

atmbarcelonacov.jpg
Harus bertanding di leg 2 dengan modal kekalahan 2-1 di
leg pertama bukanlah sebuah hal yang menggembirakan jika
sebuah kesebelasan harus melawan FC Barcelona. Atletico Madrid
butuh lebih dari sekadar gol untuk menyingkirkan Barca dari
perempatfinal Liga Champions.

Pada pertandingan Kamis (13/4) dinihari WIB, Atletico
menunjukkan salah satu permainan defensif yang paling
mengagumkan di musim ini. Pada akhirnya mereka berhasil
mencetak kemenangan 2-0 di saat kemenangan 1-0 saja sebenarnya
sudah cukup.

Dua gol dari Antoine Griezmann mengantarkan Atletico untuk
kembali menyingkirkan Barca, setelah mereka melakukannya pada
perempat final Liga Champions 2014, dan bergabung bersama
dengan Bayern Munich, Manchester City, dan rival sekota mereka,
Real Madrid di babak semifinal.

Atletico menekan full-back Barcelona

Atletico yang harus bermain tanpa Fernando Torres, pencetak gol
di leg pertama, akibat dua kartu kuning yang
diterimanya pada pertandingan tersebut, membuka pertandingan
dengan melakukan pressing yang tinggi kepada lini pertahanan
Barcelona.

"preview_image" src=
"http://us.images.detik.com/albums/about-the-game/ATMBARCELONA1.jpg"
alt="" width="610" height="233">
[Gambar 1 Grafik operan Barcelona di sepertiga lapangan
pertahanan mereka sendiri (kiri) dan sapuan Barcelona (kanan).
Sumber: FourFourTwo Stats
Zone]

Hal ini juga mereka lakukan di leg pertama yang
menghasilkan gol Torres. Mereka fokus menekan kepada dua
full-back Barca, memaksa tim lawan membuat kesalahan
di darah mereka sendiri.

Ternyata pressing mereka ini menghasilkan sesuatu yang
sangat berpengaruh berupa 3 tekel berhasil dan 2 intersep di
wilayah Barcelona. Dari gambar 1 di atas, kita
bisa melihat hanya sedikit operan Barca yang gagal di wilayah
pertahanan mereka sendiri, namun 10 operan yang gagal itu (yang
semuanya adalah operan di wilayah sayap) adalah yang
menghasilkan peluang bagi Atletico, termasuk gol pertama
Griezmann.

Ketika tekanan Atletico membuat Jordi Alba terpojok di wilayah
sudut lapangannya sendiri, ia langsung panik dan membuat sapuan
yang tidak sempurna. Kemudian Saul menyambut sapuan gagal
tersebut dan mengirimkan umpan dengan kaki luarnya untuk
disundul oleh Griezmann yang tak terjaga, dan menghasilkan gol.

Setelah gol di menit ke-35 itu, Atletico mengendurkan pressing
mereka dan mulai berkonsentrasi untuk bertahan.

src=
"http://us.images.detik.com/albums/about-the-game/ATMBARCELONA2.jpg"
alt="" width="610" height="256">
[Gambar 2 Perbandingan heat map Atletico Madrid sebelum
(kiri) dan setelah (kanan) gol pertama Antoine Griezmann.
Sumber: Squawka]

Dari gambar 2 di atas, kita bisa melihat Atletico lebih banyak
memainkan bola di wilayah mereka sendiri setelah gol dari
Griezmann.

Barcelona sulit melakukan penetrasi

Atletico sudah kalah sebanyak 7 kali dari Barcelona termasuk di
musim ini di mana mereka selalu unggul satu gol terlebih dahulu
untuk kemudian kalah 2-1. Banyak tim yang mencoba menjinakkan
Barcelona dengan bertahan dalam, tapi tidak dengan Atletico
(kecuali pada leg pertama karena mereka harus bermain
dengan 10 pemain).

Mereka sudah mencetak 28 buah clean sheet dan
kebobolan 26 kali saja sepanjang musim ini (dari total 48
pertandingan di semua kompetisi). Itulah kenapa mereka sangat
tahu bagaimana cara untuk menang melawan Barcelona, yaitu
dengan mencetak satu gol untuk kemudian bertahan dengan rapih.

"preview_image" src=
"http://us.images.detik.com/albums/about-the-game/ATMBARCELONA3.jpg"
alt="" width="610" height="328">
[Gambar 3 Grafik aksi bertahan Atletico Madrid setelah gol
Antoine Griezmann. Sumber: FourFourTwo Stats
Zone]

Setelah gol Griezmann, Barcelona tidak bisa melakukan penetrasi
ke pertahanan Atletico. Kapanpun Barca berhasil menemukan
pemain di lini tengah, para gelandang Atletico langsung
mengerubungi mereka untuk membuat Barca kehilangan bola.

Bisa dilihat pada gambar 3 di atas, sistem
pertahanan Atletico ini bukan sistem yang didasarkan pada
tekel, karena mereka sebenarnya kerap melakukan pelanggaran
karena bermain keras. Namun mengingat bahwa mereka jarang
menguasai bola (29,3%), Atleti juga tidak terlalu
ngotot untuk merebut penguasaan bola.

Kekuatan pertahanan Atletico adalah positioning
mereka. Mereka sering berkali-kali memaksa Barca tidak bisa
melakukan penetrasi dari tengah dan sangat minim sekali membuat
lawannya tersebut memdapatkan bola di dalam kotak penalti
Atletico (lihat gambar 4).

Serangan balik mematikan yang hanya menunggu
waktu

Menyerahkan penguasaan area sayap sepenuhnya kepada Barcelona,
Atletico sangat disiplin dalam melindungi wilayah di depan
gawang mereka yang dijaga oleh Jan Oblak. Berkali-kali mereka
mampu mengantisipasi umpan silang Barca. Dalam satu kesempatan,
dengan permainan tipikal seperti ini, serangan balik adalah
senjata mematikan yang hanya tinggal menunggu waktu saja
mengingat Barcelona keasyikan (mungkin lebih cocok dibaca:
kesusahan) menyerang.

src=
"http://us.images.detik.com/albums/about-the-game/ATMBARCELONA4.jpg"
alt="" width="520" height="466">
[Gambar 4 Grafik seluruh operan Atletico Madrid (kiri) dan
Barcelona (kanan) setelah gol Antoine Griezmann. Sumber:
Squawka]

Counter-attack Atletico sebenarnya sangat sederhana.
Di menit ke-86, Filipe Luis memenangi duel melawan Sergi
Roberto yang dimainkan sebagai bek kanan menggantikan Daniel
Alves. Dengan operan satu-dua cepat dengan Koke, hal ini bisa
membuka ruang di sebelah kiri pertahanan Barcelona. Dari gambar
4, Atletico hanya melakukan operan final third yang minimal,
dengan salah satu operannya membuat Andres Iniesta harus
melakukan handball dan menghasilkan penalti.

Kesimpulan

Setelah gol penalti Griezmann di menit ke-86, praktis Barcelona
hanya bisa melakukan all-out attack untuk mencetak satu gol dan
memaksa pertandingan dilanjutkan ke extra time.

Kita mungkin merasa mereka akan bisa melakukannya kalau saja
mereka mendapatkan penalti ketika Gabi tidak sengaja melakukan
handball (yang sebenarnya sedikit) di dalam kotak
penalti di injury time.

Namun, terlepas dari kontroversi tersebut, sebenarnya Atletico
memang lebih pantas menang daripada Barcelona. Mereka
melakukannya dengan sangat efektif:

1. Menekan di awal, memaksa bek lawan melakukan kesalahan,
2. Mencuri satu buah gol di awal,
3. Bertahan total dan disiplin,
4. (bonus) Serangan balik mematikan untuk menambah gol.

Tiga hal di atas terlihat sangat sederhana, tetapi sesungguhnya
sulitnya bukan main apalagi lawan yang dihadapi adalah
Barcelona yang mendekati sempurna.

Mereka sudah mencetak clean sheet lebih banyak (29)
daripada jumlah kebobolan mereka (26) musim ini. Siapapun calon
lawan mereka di semifinal, tim tersebut akan menghadapi
kesebelasan yang paling efektif dalam bertahan di Eropa dan
dunia musim ini. Diego Simeone telah mengubah Atletico sebagai
sebuah tank perang; kuat bertahan namun mematikan dalam
sekalinya menyerang.

Jika ada satu hal yang bisa kita ambil sebagai kesimpulan, kita
bisa merenungi grafik operan di bawah ini. Betapa sulitnya
pasukan Luis Enrique melakukan penetrasi ke kotak penalti
Atletico.

"preview_image" src=
"http://us.images.detik.com/albums/about-the-game/ATMBARCELONA5.jpg"
alt="" width="460" height="362">
[Gambar 5 Grafik operan sepertiga lapangan penyerangan
Barcelona, menunjukkan bahwa betapa (cenderung) perawannya
kotak penalti Atletico Madrid. Sumber: FourFourTwo Stats
Zone]

====

* Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.

(roz/a2s)

Sbr