Sampai Kapan Kau Beginikan MU, Van Gaal?

vgcov.jpg
Louis van Gaal berhasil membuat David Moyes sedikit dimaafkan.
Tak tahulah apa perasaan fans Manchester United, kalau melawan
tim yang namanya susah dieja saja, kalah juga.

Jika perasaan adalah urusan hati, tapi komentar adalah soal
ucapan. Usai MU kalah 1-2 di kandang FC Midtjylland – Anda tahu
bagaimana cara melafalkannya? – tadi malam (18/2),
kicauan-kicauan di media sosial twitter sudah bisa
ditebak: bukan beragam, melainkan satu ragam saja.

“Memalukan!”. “Bahkan lebih buruk daripada anak umur 12
tahun!”. “Sebaiknya Van Gaal membereskan mejanya, dan
menyumbang gajinya untuk amal.” — kira-kira ragam seperti
itulah, di antara kicauan frustrasi di bawah ini, dari fans
yang diduga keras fans mereka sendiri:

"http://us.images.detik.com/albums/about-the-game/tweetsVG2.jpg"
alt="" width="450" height="175">

"http://us.images.detik.com/albums/about-the-game/tweetVG1.jpg"
alt="" width="451" height="150">

"http://us.images.detik.com/albums/about-the-game/tweetVG4.jpg"
alt="" width="451" height="187">

"http://us.images.detik.com/albums/about-the-game/tweetVG3.jpg"
alt="" width="450" height="180">
"http://us.images.detik.com/albums/about-the-game/weetVG5.jpg"
alt="" width="451" height="169">

Data yang satu ini juga sudah pernah ditampilkan sebelumnya –
tapi sepertinya masih relevan untuk di-update lagi –
bahwa statistik Moyes waktu sebelum Van Gaal datang, tidak
lebih buruk daripada yang kemudian mengisi tempatnya itu.

Selama satu musim kurang empat pekan (2013/2014), Moyes 51 kali
berada di bench MU dengan hasil 27 kali menang, 9 kali
seri, 15 kali kalah. Tingkat kemenangan dia adalah 52,9% ,
tingkat raihan poinnya adalah 58,8%.

Van Gaal? Sudah 83 pertandingan dilewati orang Belanda ini, dan
tingkat kemenangan yang dia peroleh adalah 49,4%, sedangkan
tingkat raihan poinnya adalah 58,2%.

Siapa yang lebih baik? Van Gaal dong. Buktinya, di
musim lalu dia membawa MU finis di peringkat keempat di liga,
dan musim ini pun masih tak jauh dari zona itu. Moyes? Di
tangan dia Red Devils terpancang di urutan ketujuh,
pertama kalinya finis di luar posisi tiga besar dalam sejarah
mereka di Premier League, dan untuk pertama kalinya sejak 1995
tidak lolos Liga Champions. Moyes sudah membuat dosa besar
kepada MU, bukan?

Bagaimana dengan Van Gaal, karena dia masih punya 14 sisa
pertandingan untuk memberi sedikit pencerahan tentang nasibnya
di Old Trafford nanti: dipertahankan, dipecat, atau dipecat
lebih cepat (sebelum musim ini selesai)?

Sementara itu, jika ini adalah game Football Manager,
para pemain MU seperti sudah dalam kondisi “low
morale” semuanya. Untuk mengatrol lagi bukan perkara
mudah. Ibaratnya, makin hari kaki semakin berat untuk
melangkah, jika kemenangan sulit digapai, menang tapi main
buruk pun masih dicerca.

Sangat mungkin, sekembalinya dari Denmark hari ini, ketegangan
itu tak lekas lenyap dari benak para pemain MU. Sebab, pada
hari Minggu (23/2) lusa MU akan bertanding di Piala FA melawan
tim yang namanya lebih mudah diucapkan ketimbang Midtjylland –
tapi kalau sampai kalah, efeknya bisa lebih parah, karena dia
berasal dari Divisi Tiga: Shrewsbury Town F.C.

Atas nama bukan penggemar MU, Van Gaal tidak bisa terus
membeginikan MU.

====

* Penulis adalah redaktur pelaksana detiksport, penggemar
Tottenham Hotspur. Akun twitter: @sururi10

(mfi/a2s)

Sbr