Perubahan Strategi Allegri Selamatkan Juventus dari Kekalahan

juvebayerncov.jpg
Juventus bermain imbang 2-2 dengan Bayern Munich pada laga leg I
babak 16 besar Liga Champions, Rabu (24/2) dini hari WIB.
Suksesnya Juventus menyamakan kedudukan tak lepas dari perubahan
jitu yang dilakukan pelatih mereka, Massimiliano Allegri.

Kubu tuan rumah sempat tertinggal dua gol lebih dulu lewat gol
Thomas Mueller dan Robert Lewandowski, namun gol Paulo Dybala
dan Stefano Sturaro berhasil menyelematkan Juventus dari
kekalahan.

Hasil imbang sebenarnya cukup tak terduga jika melihat apa yang
terjadi pada babak pertama. Bayern, meski tampil di kandang
lawan, tampil mendominasi permainan. Penguasaan bola sendiri
Bayern unggul 66% berbanding 44%. Bahkan pada pertengahan babak
pertama, penguasaan Bayern hingga 72%.

Namun apa yang dilakukan Allegri pada babak kedua, berhasil
mengubah jalannya pertandingan. Perubahan yang ia lakukan
selain membuat Juve berhasil keluar dari tekanan, membuat Juve
mencetak dua gol, bahkan nyaris membalikkan keadaan.

"http://us.images.detik.com/albums/winterbreak/1AJuveBayern.jpg"
alt="" width="430" height="596">

Bayern Munich Membombardir Lewat Sayap

Bayern Munich tampil dengan skuat pincang di lini pertahanan.
Sejumlah bek tengah andalan seperti Holger Badstuber, Jerome
Boateng, dan Javi Martinez absen karena cedera. Sementara Mehdi
Benatia baru pulih dari cedera sehingga belum cukup fit bermain
sejak menit pertama. Alhasil, Bayern memasang Joshua Kimmich
dan David Alaba sebagai duet bek tengah.

Duet bek ini sempat mendapatkan sorotan pada laga Bayern
menghadapi Augsburg. Meski kala itu menang, lini pertahanan
Bayern cukup kewalahan menghadapi bola-bola udara yang
dilepaskan Augsburg. Kimmich, yang memiliki tinggi 176cm, jadi
salah satu alasan mengapa lini pertahanan Bayern kala itu
kerepotan dan akhirnya kebobolan satu gol.

Karenanya, Pelatih Bayern, Pep Guardiola, menghindari lini
pertahanannya mendapatkan serangan demi serangan dengan
berusaha menguasai dan mendominasi jalannya pertandingan. Skuat
asuhan Pep tersebut terus memberikan pressing agresif sejak
lini pertahanan Juve untuk mengganggu Juve membangun serangan.

Setiap pemain Juve yang menguasai bola langsung mendapatkan
gangguan dari para pemain Bayern. Dengan garis pertahanan
tinggi, aliran bola serangan Juve dari belakang pun cukup
tersendat. Bahkan Kimmich dan Alaba selalu berhasil
menghentikan serangan Juve sebelum melewati garis tengah
lapangan.

"http://us.images.detik.com/albums/winterbreak/2AJuveBayern.jpg"
alt="" width="600" height="242">

Heatmap Kimmich dan Alaba yang dominan di area pertahanan
Juventus

Penguasaan bola Bayern pun dipermudah dengan cara bermain Juve
pada babak pertama yang bermain lebih sabar saat memerankan
garis pertahanan rendah. Dengan pressing yang tak begitu
agresif dan serangan balik Juve yang tak berjalan membuat
Bayern semakin nyaman menguasai jalannya pertandingan.

Bayern sendiri menyerang lewat kedua sayap mereka yang dihuni
Douglas Costa di kiri dan Arjen Robben di kanan. Baik bola yang
berhasil dari serangan Juventus maupaun bola skema serangan
dari belakang, pasti selalu dialirkan ke kedua sayap.

Skema serangan sayap ini diakhiri dengan umpan silang ke kotak
penalti Juventus. Tercatat Bayern melepaskan 33 umpan silang
pada laga ini dengan yang berhasil menjadi peluang sebanyak 13
kali. Satu gol Bayern pun tercipta lewat serangan sayap ini,
gol pertama yang diciptakan Mueller.

"http://us.images.detik.com/albums/winterbreak/3AJuveBayern.jpg"
alt="" width="495" height="407">

Proses terjadinya gol Mueller (sumber: Squawka)

Gol kedua Bayern yang dilesakkan Robben memang tak tercipta
lewat skema umpan silang. Namun serangan balik yang menjadi
proses terjadinya gol ini memperlihatkan bahwa serangan Bayern
memang diakhiri ke sayap. Robben yang berada di sayap kanan,
kemudian menggiring bola ke tengah dan melepaskan tembakan
placing.

Respons Allegri yang Jitu Atas Tak Berjalannya
Rencana

Saat Bayern menguasai pertandingan pada babak pertama, Bayern
diuntungkan dengan gaya bertahan Juve yang memainkan garis
pertahanan rendah. Garis pertahanan rendah sendiri dilakukan
untuk menghindari para pelari cepat Bayern dalam diri Douglas
Costa dan Robben.

Rencana awal Allegri itu juga terlihat dari formasi dasar Juve
yang menggunakan 4-4-2 flat. Empat gelandang sejajar berada di
depan empat bek yang juga berdiri sejajar. Tak lupa Dybala dan
Mandzukic berada di area pertahanan untuk melancarkan serangan
balik.

"http://us.images.detik.com/albums/winterbreak/4AJuveBayern.jpg"
alt="" width="423" height="296">

Paul Pogba ditempatkan sebagai gelandang sayap kiri sementara
di kanan ditempati Juan Cuadrado. Kecua pemain ini bertugas
membantu Patrice Evra, bek kiri, dan Stephan Licthsteiner, bek
kanan, untuk meredam Douglas dan Robben.

Meskipun begitu, kemampuan individu Douglas dan Robben membuat
lini sayap Juve tetap mampu diekslpoitasi Bayern. Beruntung
duet bek tengah Juve, Leonardo Bonucci dan Andrea Barzagli,
tampil lugas dan disiplin dengan mencatatkan 14 sapuan untuk
meredam umpan-umpan silang yang dilepaskan Bayern.

Menggunakan gaya bertahan seperti ini membuat serangan balik
menjadi pilihan Allegri untuk anak asuhnya merepotkan lini
pertahanan Bayern. Namun penampilan baik gelandang Bayern yang
juga mantan pemain Juventus, Arturo Vidal, membuat serangan
Juve cepat terputus sebelum memasuki sepertiga akhir. Belum
lagi penampilan gemilang Kimmich dan Alaba kala menaikkan garis
pertahanan mereka.

Penampilan buruk Juventus pada babak pertama ini disinyalir
karena Claudio Marchisio yang mengalami cedera pada babak
pertama ini. Pada babak kedua, usai turun minum, gelandang
timnas Italia tersebut digantikan oleh gelandang asal Brasil,
Hernanes.

Masuknya Hernanes ini mendukung perubahan strategi Juventus
yang lebih agresif di babak kedua. Saat tak menguasai bola,
lini pertahanan Juventus tak lagi memainkan garis pertahanan
rendah dan dengan sabar menunggu datangnya serangan. Pada babak
kedua, Allegri menginstruksikan para pemainnya untuk meladeni
pressing Bayern dengan gaya pressing yang serupa.

Strategi ini membuahkan hasil ketika pada menit ke-63 Kimmich
melakukan kesalahan kontrol bola karena tekanan yang diberikan
Dybala. Kontrol bolanya yang tak sempurna membuat bola bergulir
ke kaki Mandzukic. Saat itulah Mandzukic memberikan operan pada
Dybala yang berdiri bebas, yang kemudian mampu menaklukkan
Manuel Neuer.

Sementara Pep Guardiola masih belum mengubah strateginya karena
masih unggul penguasaan bola dan skor masih unggul 2-1 bagi
Bayern, Allegri merespon situasi tersebut, di mana Bayern mulai
tak nyaman ketika menguasai bola, dengan memasukkan Stefano
Sturaro untuk gantikan Sami Khedira enam menit usai gol pertama
Juve dan memasukkan Alvaro Morata pada menit ke-74 untuk
gantikan Dybala. Masuknya kedua pemain ini membuat Juve
mengubah formasinya menjadi 4-3-3.

Hernanes diposisikan sebagai regista di depan duet bek
tengah Juventus. Sementara Pogba dan Sturaro bermain sebagai
box-to-box midfielder untuk mendukung pressing yang
mulai diperagakan Juve pada babak kedua. Kecepatan dan
kemampuan merebut bola yang dimiliki Sturaro memang lebih baik
dari Khedira.

Morata meski menggantikan Dybala, terdapat perbedaan area
bermain dari keduanya. Jika Dybala lebih sering beroperasi di
depan kotak penalti, Morata bermain lebih melebar, khususnya di
sisi sebalah kiri. Dengan perubahan-perubahan ini, Allegri
jelas bernafsu untuk mengejar ketinggalan.

"http://us.images.detik.com/albums/winterbreak/5AJuveBayern.jpg"
alt="">

Strategi ini membuahkan hasil pada menit ke-76. Mandzukic yang
menerima bola di depan kotak penalti lantas memberikan umpan
lambung ke sisi kanan pertahanan Bayern tempat area bermain
Morata. Dengan lawan yang dihadapi oleh Morata adalah Lahm,
Morata dengan leluasa menyundul dan mengarahkan bola ke kotak
penalti. Dari situ, bukan Mandzukic yang menyambut bola,
melainkan Sturaro yang muncul dari belakang.

"http://us.images.detik.com/albums/winterbreak/6AJuveBayern.jpg"
alt="" width="500" height="203">

Situasi sebelum Morata memberikan assist pada Sturaro

Pada gambar di atas terlihat Mandzukic yang menerima bola di
depan kotak penalti berhasil memancing duet bek tengah Bayern
untuk mengikutinya. Peran Mandzukic ini berhasil mengalihkan
perhatian bek tengah Bayern di mana kemudian Sturaro masuk
dengan cepat ke kotak penalti dari lini kedua.

Gelandang cepat dibutuhkan bagi serangan Juventus untuk
mengakomodasi perubahan strategi ini. Mandzukic yang memiliki
kecepatan mumpuni tak bisa berperan ganda sebagai finisher
sekaligus pemantul. Belum lagi sebelumnya Pogba dan Khedira
area bermainnya lebih middle third, hampir tak pernah masuk
hingga kotak penalti karena keterbatasan kecepatan yang
dimiliki keduanya.

Karenanya memasukkan Sturaro menjadi krusial bagi perubahan
strategi Allegri. Belum lagi keputusan Allegri yang lebih
memilih untuk mengganti Dybala, yang telah mencetak gol, ketika
memasukkan Morata. Mandzukic yang bisa bermain sebagai pembagi
bola menjadi alasan mengapa penyerang asal Kroasia tersebut tak
digantikan meski tak mencetak gol pada laga ini.

Kesimpulan

Hasil imbang 2-2 mungkin tak terlalu menguntungkan Juventus
karena mereka berstatus tuan rumah. Namun tetap saja kredit
khusus patut diberikan pada Allegri yang berhasil memperbaiki
kesalahannya pada babak pertama dengan sejumlah pergantian
pemain dan strategi pada babak kedua.

Sebenarnya jika melihat penampilan Juve pada babak kedua,
mereka pun sebenarnya mampu menandingi superioritas Bayern
Munich. Hanya saja di awal laga, Allegri bermain aman dengan
garis pertahanan rendah untuk menghindari kebobolan lebih
banyak.

Atas apa yang terjadi pada leg pertama di Juventus Stadium ini,
leg kedua nanti jelas akan lebih menarik. Selain Juve tak akan
membiarkan hasil imbang 0-0 dan 1-1, Bayern tentunya akan
bermain lebih percaya diri di kandang mereka, Allianz Arena.
Permainan terbuka dari keduanya bisa saja sudah tersaji sejak
babak pertama dimulai.

====

*dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di
sini
.

(din/roz)

Sbr