Kejutan Skema Tiga Bek West Ham dan Inkonsistensi Arsenal

arsenalcovreuters.jpg
Pertandingan West Ham United versus Arsenal tak menghasilkan
pemenang. Kedua tim harus puas dengan skor imbang 3-3 pada
pertandingan tersebut.

West Ham sempat tertinggal 0-2 lalu berbalik unggul 3-2,
sebelum Arsenal menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Dalam laga
yang dihelat di Upton Park, Sabtu (9/4) petang, tiga gol West
Ham dicetak oleh Andy Carroll pada menit ke-44, menit ke-45+2,
dan menit ke-52. Sementara itu, gol Arsenal dicetak Mesut Oezil
pada menit ke-18, Alexis Sanchez menit ke-35, dan Laurent
Koscielny pada menit ke-70.

Hasil ini membuat peluang Arsenal untuk segera menggeser
Tottenham Hotspur dari peringkat kedua di klasemen Premier
League kian berat. Di sisi lain, laga ini pun gagal
dimaksimalkan West Ham untuk menembus zona Liga Champions
karena masih berjarak lima poin dari Manchester City di
peringkat keempat dan berjarak satu poin dari Manchester United
di peringkat kelima (United masih menyisakan satu laga).

Susunan Pemain

"http://us.images.detik.com/albums/food-blogger/arsenalpostmatch1.jpg"
alt="" width="600" height="335">

Manajer West Ham, Slaven Bilic, membuat keputusan mengejutkan.
Menghadapi Arsenal yang secara teknis bermaterikan pemain yang
lebih superior, Bilic menurunkan formasi 3-4-3. Ia pun berjudi
dengan menurunkan Carroll sebagai ujung tombak ketimbang
memasang Diafra Sakho yang lebih punya kecepatan.

Di posisi bek tengah, Bilic memasang James Tomkins untuk
melengkapi Winston Reid dan Angelo Ogbonna. Sejatinya tidak ada
yang begitu berubah dari pakem susunan pemain West Ham. Skema
tiga bek membuat Aaron Cresswell dan Michail Antonio naik
menjadi wide midfielder. Pos poros ganda pun masih
dihuni Mark Noble dan Cheikhou Kouyate.

Sementara itu, manajer Arsenal, Arsene Wenger, menurunkan
formasi yang mirip kala mereka mengalahkan Everton dan Watford.
Pos poros ganda kembali ditempati Mohamed Elneny dan Francis
Coquelin. Sementara itu, bintang baru Arsenal, Alex Iwobi,
kembali ditempatkan di sisi kiri.

Mewajarkan Skema Tiga Bek

Menggunakan tiga bek di lini pertahanan memang mengejutkan.
Namun, hal ini bisa dipahami sebagai bagian dari strategi Bilic
untuk menghalau kecepatan kedua pemain sayap Arsenal. Dari dua
pertandingan terakhir di liga, terlihat lawan begitu kerepotan
mengantisipasi pergerakan Iwobi dan Sanchez.

Selain itu, skema tiga bek pun membuat Cresswell dan Antonio
bisa lebih leluasa dalam membantu penyerangan. Keduanya tak
perlu khawatir akan telat dalam bertahan karena posnya sudah
ditutup oleh pemain lain, khususnya tiga bek sejajar.
Penempatan Cresswell untuk lebih aktif menyerang terbilang
efektif karena ia punya akurasi umpan silang yang baik.

Skema ini bisa dibilang berhasil pada awal-awal babak pertama.
Ditambah lagi Arsenal bermain dalam tempo lambat. Hal ini
membuat West Ham mampu mengoordinasi kembali lini pertahanan
agar tak bisa ditembus penyerangan Arsenal. Hal ini terbukti
dari 10 menit pertama di mana tak ada satupun attempt
yang dilakukan oleh Arsenal.

Dari tiga pertandingan terakhir, West Ham hampir kebobolan
karena kesalahan backpass yang dilakukan pemain mereka.
Kehadiran wide midfielder memberikan opsi bagi kiper
West Ham, Adrian, dalam memberikan umpan saat ruang pemain lain
ditutup oleh para penyerang Arsenal. Hal ini terlihat pada
menit kedelapan misalnya, saat Adrian memberi umpan pada
Antonio di saat ketiga bek West Ham tak mungkin diberi umpan.

Bertahan Sesaat

"http://us.images.detik.com/albums/food-blogger/arsenalpostmatch2.jpg"
alt="" width="600" height="394">
[Grafis pertahanan West Ham. Bulat: Sapuan; Silang: Tekel;
Wajik: Potongan; segitiga: duel udara]

Formasi yang diturunkan Bilic tidak bisa dibilang sempurna.
Lini tengah yang dihuni Noble dan Kouyate tidak sekuat
biasanya. Ini yang membuat West Ham kerap gagal dalam duel di
lini tengah.

Akibat lainnya adalah minimnya umpan yang langsung mengarah
pada Carroll. Peran Carroll pun menjadi tidak jelas apakah
menjadi penyelesai umpan, tembok, atau menjadi pengecoh.

Hal ini pula yang membuat segalanya berubah. Minimnya suplai
membuat West Ham berinisiatif mengurung Arsenal. Hal ini
direspons Arsenal dengan melancarkan serangan balik. Arsenal
pun mulai menunjukkan ciri permainannya. Berkali-kali Oezil
mengirimkan umpan-umpan terobosan ke lini serang.

Umpan-umpan terobosan ini jelas mengkhawatirkan buat pertahanan
West Ham. Hasilnya bisa dengan mudah ditebak. Pada menit ke-18,
Iwobi dengan cerdik mengirimkan umpan pada Oezil yang berdiri
tipis di batas pemain paling terakhir West Ham. Lolos dari
jebakan offside, Oezil menceploskan bola ke sisi kiri
gawang West Ham.

Umpan-umpan terobosan Arsenal terus berulang. Proses serupa pun
terjadi pada gol kedua Arsenal yang dicetak Sanchez pada menit
ke-35. Iwobi lagi-lagi yang menjadi pengirim assist. Pergerakan
Sanchez pun mirip dengan yang dilakukan Oezil pada gol pertama.
Bek West Ham tertarik mengejar Iwobi. Hanya dengan dua
sentuhan, bola pun langsung berpindah pada Sanchez yang
mencetak gol.

Dari grafis di atas terlihat kalau West Ham sebenarnya lebih
banyak menyapu bola ketika ada di dalam kotak penalti. Hal ini
sekaligus menunjukkan banyaknya situasi bola-bola berbahaya
yang mampir ke kotak penalti West Ham.

Menuju Carroll

"http://us.images.detik.com/albums/food-blogger/arsenalpostmatch3.jpg"
alt="" width="600" height="418">
[Grafis umpan yang diterima Carroll]

Banyak yang pesimistis soal dimainkannya Carroll sebagai ujung
tombak. Satu-satunya hal istimewa dari Carroll adalah postur
tubuhnya yang menjulang yang memudahkannya untuk menyundul atau
menjadi tembok.

Setelah kebobolan dua gol, West Ham mengubah pendekatan mereka
dalam menyerang. Bola langsung dikirimkan ke dalam kotak
penalti, tanpa melewati area tengah. Hal ini dilakukan karena
West Ham pun kerap melakukan kesalahan sendiri dalam mengumpan.
Setelah kebobolan dua gol, akurasi umpan West Ham menurun
sampai 69%!

Memang beberapa kali umpan yang diarahkan menuju Carroll kerap
gagal. Namun, mereka melakukannya secara terus menerus hingga
tibalah pada menit ke-44.

Dimitri Payet bermain dengan menyisir sisi. Hal ini menarik
Hector Bellerin untuk bermain lebih melebar. Saat pemain
bertahan Arsenal mendekat, Payet mengirimkan umpan pada
Cresswell yang ada di belakangnya. Tanpa kontrol, Cresswell
mengirimkan umpan silang yang langsung disundul Carroll yang
menghunjam gawang David Ospina.

Dari grafis di atas terlihat semua bola umpan yang diarahkan
pada Carroll di dalam kotak penalti, berhasil menjadi peluang,
dan tiga di antaranya berbuah gol.

Kembali ke Empat Bek

Pada babak kedua, Bilic menarik Tomkins dan memasukkan Emmanuel
Emenike. Hal ini membuat West Ham kembali bermain dengan skema
empat bek.

Skema ini terbilang efektif. Poros ganda West Ham yang dihuni
Kouyate dan Noble kokoh dalam menghalau serangan Arsenal yang
ingin balas dendam. Keduanya pun mampu mengirimkan umpan dengan
segera ke lini serang.

Kehadiran Emenike membuat Payet berpindah ke sisi kanan.
Perpindahan ini yang kemudian menjadikannya pemberi assist atas
gol ketiga Carroll. Setelah gol tersebut, West Ham bermain
dengan mengandalkan serangan balik yang berkali-kali mengancam
pertahanan Arsenal.

Masalah Konsistensi

"http://us.images.detik.com/albums/food-blogger/arsenalpostmatch4.jpg"
alt="" width="600" height="197">
[Grafis arah serangan. Kiri: West Ham; Kanan: Arsenal. Dari
grafis di atas, Arsenal memaksimalkan peran Iwobi di sisi kiri,
sementara West Ham lebih banyak menyerang lewat Payet di kiri
pada babak pertama, dan sisi kanan pada babak kedua.]

Sebelum pertandingan, Arsenal lebih diunggulkan mengingat dua
pertandingan terakhir mereka yang berakhir positif. Belum lagi
kehadiran Iwobi yang tengah dalam performa puncak, diharapkan
mampu membantu Arsenal kembali meraih kemenangan.

Namun, hal ini tak terjadi. Pada awal babak pertama, Arsenal
bermain dalam tempo lambat. Tujuan mereka mungkin ingin
mengurung pertahanan West Ham. Sayangnya, serangan dari kedua
sisi kerap patah karena Cresswell dan Antonio yang bergerak
lebih maju ketimbang posisi sebelumnya sebagai
fullback.

Arsenal punya kemampuan yang membuat lawan melongo dengan
saling mengumpan di dalam kotak penalti. Watford menjadi
korbannya kala dikandaskan Arsenal 0-4. Empat gol yang dicetak
Arsenal kala itu bermula dari umpan atau saling umpan di dalam
kotak penalti.

Namun, hal ini hanya terjadi sekali dalam proses gol ketiga
Arsenal. Para pemain Arsenal bertumpuk di dalam kotak penalti,
saling memberi umpan, yang diakhiri tendangan keras Koscielny.
Sisanya, hampir tidak terlihat skema yang seperti ini.

Arsenal pun lebih memilih mengirimkan umpan-umpan terobosan.
Hal ini memang efektif apalagi mengingat dua gol The
Gunners berasal dari skema seperti ini. Namun, pada babak
kedua, keadaan berubah karena West Ham yang lebih fokus dalam
bertahan sehingga umpan-umpan terobosan Arsenal kerap
terpatahkan.

West Ham sejatinya punya kelemahan dalam mengantisipasi
umpan-umpan silang. Hal ini yang pada akhirnya tidak
dimaksimalkan Arsenal yang memang tidak mengandalkan umpan
silang sebagai skema utama serangan mereka.

Simpulan

West Ham dan Arsenal masing-masing punya kelemahan dan
kelebihan. West Ham dalam tiga pertandingan terakhir lemah
dalam antisipasi umpan-umpan silang, sementara Arsenal kerap
kehilangan kreativitas saat melakukan serangan.

Di sisi lain, keduanya punya kelebihan di mana Arsenal mampu
memperagakan umpan-umpan di dalam kotak penalti yang umumnya
bisa dikonversi menjadi gol. Namun, hal ini tidak terlihat
kecuali pada beberapa kesempatan di babak kedua yang juga
menginisiasi gol yang dicetak Koscielny.

Arsenal pun memiliki kemampuan mengirimkan umpan-umpan
terobosan yang terbukti ampuh dari terciptanya dua gol pertama
yang dicetak Oezil dan Sanchez. Ditambah lagi kondisi West Ham
yang fokus menyerang sehingga mereka kerap terlambat dalam
bertahan. Hal ini mestinya memperbesar peluang Arsenal untuk
lebih banyak mencetak gol utamanya pada babak pertama.

Namun, di penghujung babak pertama, justru West Ham yang
mengambil alih kendali serangan. Mereka bermain dengan langsung
mengirimkan bola pada Carroll yang menjadi target serangan. Hal
ini pun yang pada akhirnya menginisiasi tiga gol yang dicetak
Carroll.

Pada babak kedua, saat Emenike masuk, Bilic kembali memasang
skema empat bek. Ia menguatkan pertahanan di area tengah yang
rentan untuk dieksploitasi para pemain Arsenal. Meski kebobolan
satu gol, tapi skema ini terbilang berhasil terbukti dari
intensitas serangan West Ham yang lebih sering dan
membahayakan.

Ini bisa terlihat dari jumlah attempts yang dilakukan
West Ham. Pada babak pertama, mereka melepaskan sembilan
attempts berbanding enam, sementara pada babak kedua
mereka melepaskan 10 attempts berbanding lima.

Pertandingan semestinya bisa menjadi milik West Ham. Namun,
dengan sejumlah peluang yang tersia-siakan, membuat mereka
harus kecolongan dan berbagi angka dengan Arsenal. Belum lagi
soal keputusan wasit yang beberapa kali dianggap merugikan West
Ham.

(mfi/mfi)

Sbr