Hillsborough 1989 Tak Lagi Sama Seperti 1988

2df0eb72-66e4-43f2-8eeb-c06ef3bd6936_169.jpg
Hari ini, 15 April, selalu dikenang atas salah satu tragedi
terburuk dalam sejarah sepakbola Inggris. Sebanyak 96 suporter
meninggal karena insiden di dalam Stadion Hillsborough pada
tanggal tersebut 27 tahun silam.

Satu-satunya rujukan resmi soal Tragedi Hillsborough adalah
laporan hasil penyelidikan Departemen Kehakiman Inggris yang
disusun Peter Murray Taylor. Dalam laporan setebal 88 halaman
tersebut, dijelaskan secara rinci mulai dari sebelum hingga
setelah kejadian. Dilampirkan pula analisis dan saran untuk
sepakbola Inggris yang lebih baik. Kelak, laporan tersebutlah
yang mengubah wajah (stadion) sepakbola Inggris hingga saat
ini.

BBC dalam BBC Panorama menyebut Tragedi
Hillsborough sebagai insiden olahraga terburuk di Inggris.
Mereka menyesalkan mengapa hal tersebut bisa terjadi. Lebih
parahnya lagi, mereka menemukan bahwa penyebab Tragedi
Hillsborough hampir dikubur dengan sengaja. Padahal, kejadian
ini adalah ancaman buat kelangsungan sepakbola Inggris itu
sendiri.

Mengenal Stadion Hillsborough

Sebelum Stadion Wembley direnovasi, lokasi penyelenggaraan
partai semifinal Piala FA berubah-ubah dan ditentukan oleh FA,
yang terpenting lokasinya netral dan kesebelasan pemilik
stadion tidak bertanding saat semifinal.

Stadion yang biasa digunakan adalah Villa Park, Old Trafford,
dan Hillsborough. Stadion Hillsborough sudah digunakan untuk
menggelar partai semifinal sejak 1912. Setelahnya, Hillsborough
rutin dipilih menggelar partai semifinal meski tidak setiap
tahun.

Salah satu alasan pemilihan Stadion Hillsborough adalah karena
kapasitasnya yang bisa menampung sampai 54 ribu penonton.
Alasan lainnya adalah karena mereka memiliki tribun berdiri
yang bisa menampung penonton dalam jumlah besar. Hal ini akan
memudahkan FA untuk memberi alokasi tiket buat para penggemar
dua kesebelasan yang bertanding. Selain itu, akses menuju pintu
masuk stadion pun terpisah antara barat dan timur yang
memudahkan pihak kepolisian untuk memisahkan dua kelompok
suporter yang datang mendukung.

Selain itu, Stadion Hillsborough bisa ditempuh hanya beberapa
menit berkendara dari pusat Kota Sheffield. Di sisi lain, Kota
Sheffield pun terletak di tengah-tengah daratan Inggris yang
punya akses jalan ke seluruh penjuru mata angin, sehingga
posisinya amat strategis.

Stadion Hillsborough tentu punya kelemahan. Yang paling utama
adalah soal akses menuju stadion yang cuma bisa diakses dari
dua arah: barat dan timur. Akses menuju tribun utara tertutup
karena ada permukiman di belakang stadion, sementara di depan
tribun selatan terbentang Sungai Don dan tidak ada jembatan
yang menghubungkan antara satu sisi dengan sisi lainnya.

Akses dari  Jalan Peninstone di sebelah timur menuju
tribun timur, utara, dan selatan, hampir tak memiliki hambatan.
Jalan Peninstone sendiri merupakan jalan raya dengan tiga ruas
jalan yang termasuk jalan lintas kota dengan kode A61. Jalan
menuju tribun pun bisa diakses dengan mudah karena banyaknya
pintu masuk dan ruang yang lebar.

Kondisi berbeda terjadi untuk akses masuk dari barat yang
berasal dari Leppings Lane yang terbilang sempit meski cukup
untuk dua lajur kendaraan.  Tidak seperti akses masuk dari
timur, akses dari Leppings Lane seperti ujung botol yang
menyempit. Penggemar yang akan menuju tribun utara dan selatan
mesti berjejalan di satu tempat masuk. Pada akhirnya, hal ini
yang kemudian menjadi masalah.

"https://images.detik.com/community/media/visual/2016/04/15/99045901-9595-48de-965c-da26827c892f_43.jpg?w=480"
alt="" width="448" height="335">

Rencana yang Sama Seperti 1988

Penggemar Liverpool bukan untuk pertama kalinya bertandang ke
Stadion Hillsborough. Setahun sebelumnya, mereka melakukan hal
yang sama dan menyaksikan The Reds menang 2-1 atas
lawan yang akan mereka hadapi semusim selanjutnya, Nottingham
Forrest.

Nottingham Forest pada masa itu adalah kesebelasan yang
disegani di Inggris. Meski pada akhirnya kalah dari Liverpool
di Piala FA, tapi Forest berhasil menjuarai Piala Liga dua
musim beruntun pada 1988/1989 dan 1989/1990.

Pihak kepolisian memandang pertandingan Liverpool menghadapi
Forest sebagai pertandingan yang mesti diawasi. Konflik
antarsuporter mungkin saja terjadi, terutama karena Liverpool
menang 2-1 pada musim sebelumnya.

Hal ini yang membuat pihak kepolisian memilih menggunakan
rencana yang sama seperti yang dilakukan pada 1988 utamanya
soal suporter. Melihat faktor geografis, suporter Liverpool
dipusatkan di barat, sementara Forest di timur.

Namun, hal ini sempat ditentang oleh Liverpool karena alokasi
tiket yang dianggap tidak adil. Soalnya, Liverpool mendapatkan
alokasi tiket yang lebih sedikit, meski rataan penonton di
Anfield jauh lebih banyak ketimbang Forest.

Penggemar Liverpool diberi akses di tribun barat dan utara,
sementara Forest tribun selatan dan tribun timur. Karena
alokasi ini, Liverpool mendapatkan 24.256 tiket sementara
Forest 29.800 tiket.

Pihak Kepolisian enggan mengambil risiko. Mereka tetap
menjalankan rencana sama seperti tahun sebelumnya. Rombongan
penggemar Liverpool dikondisikan berangkat dari barat dan
utara, sementara Forest dari selatan dan timur. Khusus untuk
suporter Liverpool yang menggunakan kereta, mereka akan turun
di Stasiun Badsley menggunakan kereta khusus suporter, yang
jaraknya lebih dekat dengan stadion. Lebih dari itu, mereka tak
akan bertemu dengan penggemar Forest yang juga menggunakan
kereta dan tiba di Stasiun Utama Sheffield.

Segalanya berjalan sesuai rencana sampai satu jam jelang kick
off, kejadian buruk itu mulai terjadi.

Terlambat Masuk

Pagi hari pada 15 April 1989, sejumlah suporter Liverpool sudah
memasuki kota Sheffield. Banyak dari mereka yang berkumpul di
depan halaman rumah orang. Tidak sedikit pula yang nangkring di
kedai bir.

Para penggemar Liverpool sejatinya sudah berkumpul di Leppings
Lane saat matahari beranjak tinggi. Pintu stadion pun dibuka
mulai pukul 11.30 waktu setempat. Namun, banyak dari mereka
yang memilih bersantai-santai di luar ketimbang langsung masuk
ke tribun.

Pukul dua siang, dari ruang kontrol yang memonitor pergerakan
suporter via kamera pengawas, memperlihatkan kalau jumlah
suporter Forest sudah mengisi penuh tribun. Sementara itu,
tribun untuk suporter Liverpool masih terlihat kosong.

Pukul 14.20, dikonfirmasi kalau semua penggemar Liverpool sudah
berkumpul di Leppings Lane. Petugas patroli kepolisian telah
memberi isyarat kalau rombongan dari Liverpool sudah masuk ke
Sheffield.

Di waktu yang sama, petugas kepolisian di Leppings Lane sudah
kesulitan untuk mengecek barang bawaan para penggemar. Mereka
kalah jumlah, bahkan sulit untuk bergerak di antara lautan
manusia.

Petugas di ruang kontrol meminta agar pertandingan yang
sejatinya dihelat pukul tiga sore ditunda, karena mayoritas
suporter Liverpool masih di luar stadion. Namun, tidak ada
kebijakan yang memperkenankan penundaan tersebut kecuali
terkendala kabut ataupun kemacetan parah.

Krisis di Tribun Barat

Tribun barat Stadion Hillsborough memiliki dua tingkat. Tingkat
pertama adalah tribun berdiri yang dipisahkan oleh pembatas dan
terbagi menjadi tujuh sektor yang dihitung dari ujung selatan.
Sektor 3 dan 4 menjadi favorit suporter karena letaknya tepat
berada di belakang gawang.

Untuk menuju sektor 1,2,6, dan 7, suporter tetap masuk lewat
lorong menuju sektor 3 dan 4. Ini yang membuat terjadinya
penumpukan di sektor tersebut, antara suporter yang ingin
menuju sektor lain, dan suporter yang ingin menetap.

Saat suporter mulai masuk dan berdesakan, sejumlah besar
lainnya mulai bergegas masuk karena pertandingan akan segera
dimulai. Jumlah yang besar ini tidak sesuai dengan lebar pintu
masuk dan ruang yang tersedia. Akibatnya, terjadi saling dorong
yang membuat sejumlah suporter perempuan dan anak-anak pingsan.

"https://images.detik.com/community/media/visual/2016/04/15/79ec1d36-1082-4409-a3dc-b60f73d3661d_169.jpg?w=620"
alt="" width="561" height="316">

Permintaan agar pertandingan ditunda pun kembali ditolak.
Padahal, hal ini dianggap bisa memecahkan konsentrasi massa yang
memang tergesa-gesa untuk masuk ke tribun agar tidak ketinggalan
pertandingan dan kehabisan tempat.

Untuk mengurangi tekanan akibat berdesakan dan memperkecil
risiko jatuhnya korban, pintu keluar pun dibuka oleh polisi.
Sialnya, hal ini dimanfaatkan oleh suporter tak bertiket untuk
turut masuk secara bebas ke area tribun. Hal ini jelas membuat
kondisi sektor 3 dan 4 kian padat oleh suporter yang berjejalan
masuk.

Saat Tragedi Itu Terjadi

Pukul 14.54, jumlah suporter di tribun barat kian masif. Banyak
dari mereka yang merasa tidak nyaman dan kesulitan bernafas.
Terdengar teriakan minta tolong agar pintu dari pagar menuju
lapangan dibuka. Namun, petugas kepolisian yang berjaga tepat
di depan tribun barat tidak bereaksi.

Karena tekanan yang begitu besar, pintu 3 jebol. Namun, petugas
kepolisian dengan cepat menutupnya kembali. Tak berselang lama,
pintu 3 kembali jebol, dan petugas kepolisian berusaha
mendorong masuk suporter yang terjebak di dalam.

Para penggemar pun mulai pindah dari sektor 3 dan 4 ke sektor
sebelahnya dengan memanjat pagar. Beberapa lainnya berusaha
memasuki lapangan. Namun, hal tersebut sulit dilakukan dengan
cepat karena pagar memiliki ujung runcing ke dalam yang memang
dirancang untuk membuat suporter tetap di dalam.

"https://images.detik.com/community/media/visual/2016/04/15/7bf39252-6208-4343-becd-27eb0eb33ace_169.jpg?w=620"
alt="" width="545" height="307">

Kekacauan di sektor 3 dan 4 tidak mendapatkan perhatian nyata
dari ruang kontrol. Padahal posisi ruang kontrol berada di sudut
antara tribun barat dengan tribun selatan. Pihak kepolisian malah
menyiagakan petugas cadangan menuju tribun barat. Mereka
diinstruksikan untuk berjaga akan kemungkinan pitch
invasion.

Komandan Lapangan, Roger Greenwood, naik ke atas pagar pembatas
dan meminta suporter untuk tidak terus mendorong ke depan.
Namun, hal tersebut mustahil dilakukan karena arus suporter
yang masuk begitu masif. Lewat komunikasi radio, ia meminta
agar pertandingan dihentikan. Sebagai inisiatif ia berlari
masuk ke dalam lapangan dan meminta langsung kepada wasit.

Evakuasi yang Lambat

Pukul 15.12, Kepala Divisi Lalu lintas, John Arthur Nesbit,
mengambil alih evakuasi di tribun barat. Ia bersama petugas
kepolisian dan suporter bersama-sama merobohkan pagar agar
suporter yang ada di dalam bisa cepat keluar.

Setelah pertandingan dihentikan, para penggemar mulai saling
menolong satu sama lain. Mereka bahkan menggunakan papan iklan
untuk mengangkut suporter yang sudah tak berdaya. Evakuasi pun
terbilang lambat. Ambulans pertama yang masuk stadion justru
bukan milik kepolisian, tapi milik RS St. John. Bahkan, hingga
pukul 15.30, tidak ada permintaan untuk kehadiran dokter di
stadion.

"https://images.detik.com/community/media/visual/2016/04/15/29eec742-e620-4e79-962a-41f1688d9e87_169.jpg?w=620"
alt="" width="545" height="307">

Sejumlah suporter yang tewas sudah ditemukan dengan kondisi yang
mengenaskan. Badan mereka membiru dengan mulut dan mata terbuka
lebar. Hal ini banyak terlihat di pintu 3. Mereka yang selamat
melangkah gontai menuju lapangan. Beberapa dari mereka langsung
merebahkan tubuhnya. Tidak sedikit yang terguncang dan tidak tahu
harus ke mana. Banyak dari mereka yang menanti rekan, kolega,
anak, adik, saudara, ayah, yang masih terjebak dalam kerumunan
dan berharap tidak ada kabar buruk setelahnya.

***

Sehari berselang, penggemar Liverpool kembali dibuat kecewa
oleh pemberitaan media. Banyak yang menganggap kejadian
tersebut karena suporter Liverpool yang berusaha menjebol pintu
masuk. Padahal, ada sejumlah hal, seperti kelalaian kepolisian,
sampai desain stadion yang membuat korban begitu banyak
berjatuhan.

Inilah yang kemudian menjadi sebuah “pertarungan panjang”:
pihak Liverpool, terutama ditopang oleh kegigihan keluarga
korban, terus mencari dan menuntut keadilan. Berbulan-bulan dan
bertahun-tahun mereka terus menyuarakan agar kebenaran dalam
peristiwa itu dibuka dengan seterang-terangnya.

"https://images.detik.com/community/media/visual/2016/04/15/c9f6109b-5c1d-4aa6-98b8-f5781a119172_916.jpg?w=620"
alt="" width="501" height="891">

Pelan tapi pasti perjuangan itu menuai hasil. Kebenaran kecil
demi kebenaran kecil, terkait fakta-fakta yang sebelumnya
dikaburkan, mulai dibuka dan semakin terbuka. Perjuangan mereka,
dalam aspek yang lain, juga “menghajar” kesadaran otoritas di
Inggris untuk memperbaiki dirinya: standar stadion-stadion
kemudian berubah, semakin bagus dan kian aman.

Sebab, menuntut keadilan melalui jalan perjuangan bukan untuk
menghidupkan lagi para korban. Yang telah tewas tak akan bisa
dihidupkan lagi. Melainkan untuk memastikan keadilan bisa
muncul, agar korban tak disalahkan dan mereka yang
bertanggungjawab malah bisa melenggangkangkung. Dan, ini yang
terpenting: agar tak terjadi insiden dan tragedi serupa di
warsa-warsa mendatang.

(bersambung)

====

*penulis juga biasa menulis untuk situs @panditfootball,
beredar di dunia maya dengan akun @aditz92.

(din/roz)

Sbr