Filosofi Ranieri yang Membawa Leicester Melambung Tinggi

1460116221_ranieriisi.jpg
Leicester – Leicester City di ambang juara
Premier League musim ini. Filosofi sang manajer, Claudio Ranieri,
telah mendekatkan The Foxes untuk meraih trofi.

Leicester menunjukkan konsistensi musim ini. Di awal musim
penampilan apik mereka disebut-sebut sebagai kejutan. Hingga
kemudian kejutan demi kejutan itu menjadi sebuah laju yang
bertahan sampai pekan-pekan terakhir.

Leicester kini mendiami puncak klasemen dengan jarak tujuh poin
dari Tottenham Hotspur yang ada di urutan kedua. Apalagi jika
dibandingkan laju mereka sendiri di musim lalu. Leicester
meroket. Di pekan yang sama Leicester ada di urutan ke-17.

Ranieri menyebut tak mempunyai resep rahasia untuk membangunkan
‘Si Rubah’ sampai seganas ini. Dia hanya punya cara-cara yang
dinilainya sederhana.

“Menurut saya sangat penting untuk bisa mengeluarkan kemampuan
terbaik masing-masing pemain dan menyatukannya dalam tim.
Sepakbola adalah permainan 11 orang. Sebuah tim diwakili 11
pemain itu, tapi tidak tahu berapa di antara mereka yang
nyambung satu sama lain. Sementara sebelas pemain kami yang ada
di tengah lapangan terhubung satu sama lain. Itulah kuncinya,”
kata Ranieri seperti dikutip Leicester Mercury.

“Sangat penting untuk menemukan solusi buat masing-masing
pemain. Seperti itulah ide saya soal sepakbola. Saya
menginginkan permainan dengan mengutamakan penguasaan bola,
tapi pemain saya tidak menyukainya. Lantas kenapa saya malah
menekan para pemain? Saya senang dengan counter attack
tapi kalau saya tak mempunyai pemain yang bisa bermain
counter attack kenapa saya memaksa untuk memainkan
tipe permainan seperti itu?

“Cukup penting untuk mengetahui apa yang bsia dilakukan tim dan
Anda tinggal memberikan solusi paling tepat. Saya lihat siapa
saja pemain di tim ini dan apa kekuatannya. Saya kombinasikan
kedua hal itu menjadi poin kekuatan tim ini. Kalau saya tak
mempunyai striker yang cepat saya tak akan memainkan
counter attack, tapi pilih cara lain.

alt="" width="300" height="344">“Saya menyajikan cara-cara
berbeda saat menangani Roma dan AS Monaco. Saat menangani
timnas Yunani saya juga tak menggunakan dua cara di tim itu,”
tutur Italiano itu.

Menilik statistik Leicester termasuk tim yang lemah dalam
ball possession. Mereka ada di urutan ketiga dari
bawah di antara tim-tim liga Inggris dengan rataan ball
possession 44,8%. Leicester juga rendah dalam umpan
akurat, dengan ada di peringkat kedua juga dari bawah dengan
persentase 70,1% alias hanya 0,1% lebih bagus ketimbang West
Bromwich Albion.

“Sepakbola itu amat terbuka, bukan cuma menjaga ball possession
atau membuat umpan akurat,” ucap pria berambut putih itu.

“Tentunya kami bukannya bersih dari kesalahan. Kami tetap
membuat kesalahan karena kami bermain dengan kecepatan 100mph.
Sulit untuk tak membuat kesalahan dengan bermain 100mph. Tak
penting soal bikin kesalahan itu, tapi yang penting adalah
berapa banyak Anda menciptakan peluang gol dan berapa gol yang
dicetak. Itulah filosofi saya,” tutur dia.

(fem/raw)

Sbr