Cinta Sepanjang Masa Barca-Kobe Bryant

0b9ecc8d-01a0-4846-ada2-ac1d02ef696d_169.jpg
Pada hari di mana Barcelona tersingkir di Liga Champions, Kobe
Bryant melakoni laga terakhirnya. Ini seperti cinta sehidup
semati.

Tentu, bagi Barca, tersingkir dari Liga Champions adalah hal
yang menyakitkan. Sedikit berbeda bagi Kobe, yang laga
terakhirnya justru mendapatkan penghormatan dari para atlet,
baik dari pemain-pemain basket ataupun para petenis, seperti
Roger Federer dan Serena Williams, dan pesepakbola.

Sementara itu, Staples Centre terisi penuh. Semuanya ingin
menyaksikan langsung aksi Kobe di atas lapangan untuk terakhir
kalinya. Mereka tidak kecewa. Sebaliknya, mereka justru
mendapatkan suguhan yang pantas: Kobe menggila.

Kobe sudah kesetanan sejak kuarter pertama, di mana ia mencetak
15 poin, kendati pun LA Lakers sendiri sedang tertinggal dari
lawannya di laga terakhir musim reguler, Utah Jazz. Setelah
mencetak 7 dan 15 poin di kuarter ketiga dan keempat, Kobe
menginjak pedal gas dalam-dalam pada kuarter keempat.

Seakan-akan ingin menghabiskan seluruh bensin yang ada di dalam
tangkinya, Kobe mencetak 23 poin. Lakers pun menang 101-96.
Sebuah penutup karier yang begitu manis.

"https://images.detik.com/community/media/visual/2016/04/14/966880a0-2743-4910-ae5b-c73a239dd123_169.jpg?w=620"
alt="">

‘Mamba Day’, demikian hari Kamis, 13 April 2016 waktu
setempat, akan selamanya diingat. Mereka yang mengenal Kobe
dengan baik, atau sekadar cuma pernah bertemu dan mengagumi,
ramai-ramai memberikan testimoni untuk pebasket berusia 37
tahun tersebut.

Kobe selamanya akan dikenang sebagai pebasket jenius sekaligus
arogan; pemain panutan sekaligus pria yang menyebalkan. Mereka
yang mengenalnya menyebutnya selalu ingin mendominasi dan
menang, sementara mereka yang pernah menjadi lawannya bakal
membencinya habis-habisan.

Kevin Durant, misalnya. Dalam video yang diunggah oleh Nike,
forward Oklahoma City Thunder itu terang-terangan menyebut Kobe
sering bikin kesal dirinya. Pernah pada suatu waktu, Kobe
berucap di depan Durant soal bagaimana mungkin pemain-pemain
lain duduk satu meja dengannya. Sebab, sementara dirinya sudah
mengoleksi lima cincin juara, pemain lainnya punya apa?

Sementara beberapa atlet menyebut beberapa kata bagus, seperti
“courage” (berani), “winner” (pemenang), dan
“leader” (pemimpin) untuk menggambarkan Kobe, Durant
dengan santainya menyebut Kobe sebagai “a**hole”.

Tentu, sekalipun sebal, Durant tetap respek pada Kobe. Yang
baru saja ia sebut dengan “a**hole” itu adalah 
top pointer tertinggi ketiga dalam sejarah NBA dengan
33.643 poin.

"https://images.detik.com/community/media/visual/2016/04/14/1d7e8899-312e-4ad7-8dc5-7d4ad0ba25cd_916.jpg?w=620"
alt="">

Kobe dan Barca punya kesamaan. Keduanya adalah identitas super
di olahraga masing-masing. Kobe sebagai sebuah individu dan
Barca sebagai sebuah klub.

Tidak heran jika Kobe mengagumi Barca, kendati pun ia bukan
orang Spanyol dan negara tempat ia dilahirkan tidak mengenal
sepakbola sebagai olahraga nomor satu. Tiap kali Barca
menyambangi Amerika Serikat untuk melakoni tur, Kobe pasti
datang menyambangi. Tidak terkecuali ketika Barca datang ke Los
Angeles pada 2015.

“Saya mencintai FC Barca, semua orang tahu itu. Sudah lama
mereka jadi tim favorit saya. Saya suka cara mereka bermain.
Mereka bermain sebagai sebuah unit, sebagai sebuah tim, mereka
bermain dengan kreatif, dan mereka selalu bekerja keras. Saya
selalu mengagumi itu,” ujar Kobe dalam wawancara dengan Barca
TV beberapa tahun lalu sembari mengenakan kostum Los Cules.

Cinta Kobe pada Barca tidak bertepuk sebelah tangan. Sebelum
Kobe melakoni laga terakhirnya, Barca telah membuat video
khusus yang berisikan aksi-aksi Kobe di atas lapangan. Dua
pemain Barca, Andres Iniesta dan Gerard Pique, juga ikut
memberikan testimoni di video tersebut.

Video sepanjang 2 menit itu kemudian ditambahi ucapan: “Seorang
legenda tidak akan pernah berlalu. Terima kasih atas
dukunganmu, Kobe.”

(din/roz)

Sbr