Bebat Biru di Lengan Kanan Vardy

3925c229-9145-4501-818d-e336781304f6_43.jpg
Sadarkah Anda kalau hampir sepanjang musim Jamie Vardy bermain
dengan satu tangan terbungkus bebat (perban). Adakah itu sekadar
gaya dia, ritual alias jimat, atau apa?

Sebenarnya, sudah sering kita melihat pesepakbola mengenakan
“aksesoris” serupa ketika bermain. Kita biasa melihat para
pemain menggunakan kinesio tape di lutut dan paha atau
mengenakan wristband di pergelangan tangan.

Ini, tentunya, bukan hanya di dunia sepakbola saja. Di olahraga
bola basket, kita juga sering melihat para pemain mengenakan
headband.

Biasanya, “aksesoris” tersebut punya fungsinya masing-masing.
Wristband, misalnya, bisa digunakan untuk menyeka
keringat. Ini biasa dilakukan oleh para petenis agar tidak
menggangu konsentrasi mereka.

Lalu, bagaimana dengan Jamie Vardy?

Akhir pekan lalu, saat Leicester menang 1-0 atas Southampton,
ada dua kicauan fans yang dikutip sejumlah media Inggris,
terkait bebat di lengan kanan Vardy.

“Apakah bebat di tangan itu yang memberikan bakat sepakbola
pada Jamie Vardy? (Dia sudah) diperban hampir tiga tahun,”
tulis pemilik akun @joelcrookes.

“Apakah Jamie Vardy punya kesepakatan sponsor dengan sebuah
perusahaan plester? Sepertinya ada gips yang permanen di
pergelangan tangan dia,” duga @TrevorOakley.

"https://images.detik.com/community/media/visual/2016/04/11/b42e0bfd-e06e-4f94-8e48-7959ed3d8683_43.jpg?w=480"
alt="" width="445" height="334">

Faktanya, Vardy memang selalu tampak memakai bebat itu, yang
warnanya selalu selaras dengan jersey apa yang sedang dikenakan
— biru di pertandingan kandang, putih saat away,
bahkan merah kala membela timnas Inggris yang berkostum
merah-putih.

Benarkah sudah hampir tiga tahun? Betulkah Vardy jadi bintang
iklan produk pembungkus tangan? Jawaban kedua pertanyaan itu
adalah ‘tidak’.

Bebat itu dipakai Vardy sejak pertengahan September tahun lalu
(2015), usai mendapat cedera dari pertandingan Leicester
melawan Aston Villa. Menurut Vardy, ada dua tulang di areal
telapak tangannya yang retak, dan sampai kini rasa sakitnya
belum sepenuhnya hilang.

“Pakai bebat untuk mencegah kerusakan yang lebih besar lagi.
Jadi, aku senang-senang saja terus memakai ini saat
bertanding,” demikian penjelasan Vardy.

Faktanya, cedera yang belum sembuh itu tidak mengganggu
eksplosivitas Vardy. Dari 33 penampilan musim ini, penyerang
berusia 29 tahun itu sudah mencetak 21 gol.

Kontribusi Vardy bukan cuma soal gol. Dalam catatan
Squawka, ia juga sudah mengkreasikan 45 peluang. Di
Leicester musim ini, ia hanya kalah dari Marc Albrighton (yang
sudah menciptakan 60 peluang) dan Riyad Mahrez (49 peluang).
Selain itu, Vardy juga sudah menyumbang 6 assist.

Well, kalau melihat gaya mainnya (dan juga Leicester)
tidak heran kalau kontribusi Vardy tidak sebatas gol saja. Baik
Vardy ataupun duetnya di depan, Shinji Okazaki, sering
mengganggu bek lawan yang tengah menguasai bola. Tak heran jika
peluang Leicester juga banyak diawali kesalahan pemain belakang
lawan.

(roz/a2s)

Sbr